Showing posts with label sepedahan. Show all posts
Showing posts with label sepedahan. Show all posts

Saturday, January 31, 2009

[id-fb] Rute Gowes Karawaci 24-01-09



From: Anto Daryanto
Date: Sat, 31 Jan 2009 14:55:47 +0700
Subject: [id-fb] Rute Gowes Karawaci 24-01-09


*walaupun telat*

Waktu gowes Karawaci 24 Januari 09 dicapture pakai Blackberry. Overlay
Google Earth.

Mulai dari Baliview - Fitria - BSD - Cisauk (ada oproadnya) - Karawaci,
pulang Karawaci - Gading Serpong - BSD - Sarua - Baliview.
Total 67 km. Jauh ya ... :)

Enjoy ....

Kalau berminat file kmz, please japri.

--
-anto

"Stop Talking, Go B2W"

--

Sunday, January 4, 2009

[id-fb] Track preview Jakarta-Bogor via Ciseeng

Kepingin nyoba jalur kuning hihi. Tanjakannya landai menghanyutkan, katanyaaaa..

From: "HuD@idFoldingBike"
Date: Sun, 4 Jan 2009 12:31:35 +0700
Subject: [id-fb] Track preview Jakarta-Bogor via Ciseeng
To: id-foldingbike

Sekedar preview track yang kemaren dilewatin olek peserta "gowes cantik mBogor".

Keterangan :
- Garis kuning adalah track yang dilewatin pada perjalanan jakarta - bogor
edisi 25 desember 2008 via parung
- Garis biru adalah track yang dilewatin pada perjalanan jakarta - bogor
edisi 3 Januari 2009 via Ciseeng
- Track profile merupakan profile untuk perjalanan edisi 3 Januari 2009

Lihatlah betapa muter²nya itu track warna biru .... kekekeke

Salam,
HuD@

Saturday, December 27, 2008

Fun Bike Hari Relawan PMI 2008

keracunan abisss
di tempat Start


Lumayaaannn, musim liburan dan akhir taun gini ada acara menyalurkan hasrat gowes. Pendaftaran cuma Rp 10.000,- dapet kaos bahannya bagus (secara disponsorin American Red Cross) dan makan siang (yang ini ga diambil karena udah kelaperan). Di jadwal sih start jam 7 pagi di Taman Sri Ratu Safiatuddin. Prakteknya jam 8 masih kata sambitan eh sambutan. Gue bela-belain bangun jam 5 pagi biar bisa berangkat 6.15. Karena mo berangkat berlima kita ngegowes. Kalo cuma bedua mo naik becak soalnya jauh. Hemat tenaga ceritanya hehehe... Hodob juga ya gue.
Sampe tempat start udah lumayan rame, ada sekitar 50an orang. Om Iran idfb dan Anna udah sampe duluan ternyata. Kita sibuk fota-foto sama sepeda patroli polisi yang sengaja kita kerubungin biar bisa difoto hehehe..
Singkat kata, berangkatlah kita diiringi para polisi bersepeda, bermotor dan bermobil. Pake voojrider, booookkk.. Kapan lagi sepeda bisa ngelanggar lampu merah coba heheehhehehehe... Fun bike ini dibagi jadi 4 pos. Dia tiap pos kita harus ngisi pertanyaan dan dikembalikan di pos berikutnya. Nanti yg jawabannya bener semua diundi untuk dapetin 3 sepeda Polygon. Masing-masing pemenang dapet 1 layaw.. Selain itu door prize perlengkapan nyepeda juga: helm, jaket, tas bladder, MP3 player. Salah satu pemenang helm ternyata belom punya helm, ckckck.. Sepeda bagus beli helm aja ogah, heran..
Ada anak TK yang gowes dari Start sampe Finish loh! Hebatttt! 17 km kan lumayan banget buat anak seumur itu. Bokapnya sabar nemenin dia gowes. "Ga mau berenti dari Start tadi," jawab bapaknya waktu gue tanya. Ada 1 polisi bermotor khusus ngawal mereka berdua di belakang. Waktu sampe Finish semua kasi applause pas MC ngumumin anak TK itu udah masuk. Gedenya pasti jadi B2W-er :D
Ternyata gue sampe Finish duluan bareng Putu. Kirain MZ dan om Irwan udah duluan karena di Pos 3 gue ga liat mereka. Ada cowok ngeliatin sepeda gue yang keren banget itu. Gue senyumin aja *narsis mode ON*.
"Sepedanya bagus, kak.." katanya.
"Iya (dalam hati). Bisa dilipet loh.." langsung mulai ngelipet dong gue.
"Ehhh ga usah dilipet, kak, ngerepotin."
"Ga pa-pa, gampang kok." Gue lipet sampe beres (mulai dikerubungin dan dikomentarin) terus gue sorong. Hahahahaha seneng gue liat wajah takjub mereka :D
"Beli di sini, kak? Berapa? Di Serikat (toko sepeda terbesar di sini) ada?"
"Beli di Bintaro. Murah kok cuma 3 juta."
"Murah ya, 3 juta bagus banget bisa dilipet." (mulai joget pisang gue dengernya)
Pas banget MZ dan om Irwan masuk Finish.
"Nah itu juga lipet, pak, sama ama ini."
Langsuuung mereka berdua demo ngelipet. Ada bapak-bapak keliatan minat banget. Setelah dilipet dia angkat, sorong, minta dibuka terus dicoba. Ada juga yang sampe detil nanya alamat RL Medan. Mo beliin buat istrinya, kesian kalo pake onthel, katanya (beliau penggemar sepeda onthel). Sip, pak! Biar di Banda ada moroners lokal, ga cuma pendatang ;)
Abis dari sini kita ke Sup Tulang Kutaraja. Jatah maksinya ga tau dibagi kapan sementara udah kelaparan dan panas. Di STK ga foto-foto, udah sering hehehehe...
Besok ada fun bike lagiiiii... Horeeee... *banci fun bike*
Salam,
Hani on Roo

Monday, December 22, 2008

[b2w] Mau Aman di Jalan Raya? Yuk, Bersepeda....

From: Bang Aswi
Date: Sun, 21 Dec 2008 09:31:11 -0800 (PST)
Subject: [b2w] Mau Aman di Jalan Raya? Yuk, Bersepeda....
To: b2w-indonesia@yahoogroups.com
Kualitas udara yang buruk dapat mempengaruhi fungsi paru-paru para pesepeda seperti bersepeda di dekat pembuangan asap bis atau mobil. Hal ini berdasarkan penelitian terhadap para pembawa pesan bersepeda (cycling messengers) di London yang dilakukan oleh Universitas Brunel.
Mereka mengatakan kalau efek negatif dari udara yang buruk itu membuat kesehatan para pesepeda itu makin buruk.

Meskipun para pesepeda itu memilih waktu dimana keadaan lalu lintas tidak terlalu padat, hasilnya ternyata tidak terlalu mempengaruhi. Sementara itu peneliti dari Universitas New South Wales menyatakan bahwa kesehatan para pesepeda akan lebih terjaga kalau ada banyak orang yang bersepeda di jalan. Nah, yang jadi jadi pertanyaan penting adalah apa yang harus dilakukan para pesepeda? Apakah harus bersepeda pada waktu dimana keadaan lalu lintas tidak terlalu padat, menghindari jalur bis, atau menggunakan masker?

Berdasarkan hasil penelitian yang pertama, sebenarnya para pesepeda di London tersebut sudah memakai masker khusus sehingga mengubah kinerja paru-paru mereka lebih baik setelah bekerja selama 7,5 jam di jalan-jalan London yang sibuk daripada tidak memakai masker. Pada saat tingkat polusi sedang tinggi, kinerja paru-paru berkurang lima persen dan para pelakunya mengalami efek "acute inflammation" atau rasa sakit (yang kadang-kadang disertai panas) pada paru-paru mereka. Saat kualitas udara kembali membaik, kinerja paru-paru juga kembali normal.

Berkurangnya kinerja paru-paru meskipun pada tingkat polusi yang relatif rendah tentu mengkhawatirkan. Prof. Alison McConnell, profesor pada bidang Fisiologi Terapan di Sports Medicine & Human Performance dari Universitas Brunel, menyamakan 30 menit bersepeda pada udara yang buruk dengan 8 jam duduk di pinggir jalan karena tingginya kecepatan menghirup udara dapat meningkatkan asupan polusi. Akan tetapi, McConnell juga menemukan sesuatu yang menarik -- bukan kebetulan kalau dia juga menciptakan masker 'PUREbreathe'--bahwa masker PUREbreathe
dibuat untuk membantu para pemakainya mengurangi asupan debu, partikel-partikel polusi, dan serbuk bunga (pollen). Perlu diketahui bahwa masker PUREbreathe dibuat untuk para atlet Inggris pada Olimpiade Beijing.

Penelitian McConnell yang membutuhkan waktu enam minggu menggunakan delapan orang pesepeda (cycling messenger) yang mempunyai jam kerja lima hari seminggu dan 7,5 jam sehari. Mereka diperiksa kadar asupan 'particulate matter' (PM) tiap harinya di dalam darah dan dibandingkan
dengan tingkat polusi sebenarnya di jalan raya. Padahal, angka PM di London berada di bawah angka maksimum yang ditetapkan oleh WHO (50 mikrogram per meter kubik) dan di bawah angka rata-rata yang ditetapkan BBC selama Olimpiade. Perlu diketahui bahwa paru-paru adalah penghantar terbaik sehingga hanya membutuhkan 10 detik untuk menghantarkan partikel-partikel asap rokok yang terhisap untuk mencapai otak.

Sementara itu, saat paru-paru Anda berada pada kondisi terburuk pada lalu lintas yang padat, tingkat keselamatan Anda mungkin berada pada titik tertinggi, khususnya jika ada banyak pesepeda di sekeliling Anda. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas New South Wales mencoba membandingkan penelitian yang dilakukan di negara lain (15 negara termasuk Belanda, Denmark, Australia, dan 68 kota di California) untuk menemukan bahwa mitos urban "safety in numbers" itu
memang sesuai kondisinya untuk para pesepeda.

Semakin banyak jumlah pesepeda di jalan, penelitian menunjukkan bahwa para pengendara kendaraan bermotor yang mengubah perilakunya dalam berkendaraan (termasuk mengurangi jumlah pemakaian kendaraan bermotornya) dapat mengurangi jumlah kecelakaan yang terjadi di jalan raya. Pada kondisi tertentu, komunitas seperti bike to work (B2W) yang terus berkampanye tentang pentingnya penggunaan sepeda sebagai alat transportasi, ternyata dapat mengurangi jumlah kecelakaan akibat kendaraan bermotor menjadi sepertiganya. Artinya, kendati hal ini seperti paradoks, semakin banyak orang yang bersepeda ternyata dapat mengurangi jumlah kecelakaan di jalan raya. Memang tidak sesederhana seperti tampaknya, tetapi secara tidak langsung, makin banyak orang yang berjalan kaki atau bersepeda, para pengendara kendaraan bermotor tentu akan semakin berhati-hati dalam berkendaraan.

"Inilah yang disebut dengan lingkaran virtuous," ujar Dr. Julie Hatfield pada seminar keamanan bersepeda di Sydney, Australia, 5 September 2008 lalu. "Jauh lebih aman bersepeda secara berkelompok daripada sendirian," ujarnya menambahkan. Secara tidak langsung, dia juga mengatakan bahwa kelengkapan bersepeda di jalan raya juga menunjukkan siap tidaknya seseorang untuk bersepeda.
"Inilah efek positifnya meski beberapa orang merasa heran bahwa tingkat kecelakaan tidak bertambah (dan malah berkurang) bersamaan dengan meningkatnya jumpa pesepeda," ujar Dr. Chris Rissel dari Universitas Sydney.
"Hal ini menunjukkan bahwa para pengendara kendaraan bermotor mulai berhati-hati saat mengetahui banyaknya orang yang bersepeda, kemudian mulai menunjukkan rasa simpatiknya, yaitu turut bersepeda."

Perhatian terhadap rasa aman saat di jalan raya begitu penting di Australia. Lebih dari 1,68 juta orang dewasa yang bersepeda pada 2006, kemudian terjadi peningkatan sebanyak 250.000 orang sejak 2001. Pada masa itu, telah terjadi pertambahan sebanyak 22% orang yang bekerja dengan menggunakan sepeda (bike to work) di Sydney. Di Melbourne sudah terjadi peningkatan 42% saat di Sydney hanya terjadi peningkatan sebanyak 9%. Pada 2006 menunjukkan bahwa ada 12.132 orang yang ber-B2W di Sydney. Rissel juga menambahkan bahwa sepeda sebagai alat transportasi banyak dipilih orang karena ada rasa 'fun' dan nyaman sekaligus juga ada tujuan kesehatan dan menjaga lingkungan hidup. "Kita harus menciptakan kondisi bahwa sepeda itu sahabat dan menunjukkan positifnya bersepeda pada kampanye keselamatan di jalan raya. Begitu juga dengan pentingnya mengingatkan pesepeda memakai helm dan perlengkapan pendukung lainnya agar mereka lebih berani bersepeda di jalan raya."

Untuk Anda yang bersepeda di jalan raya, cara-cara berikut ini dapat meminimalisasi asupan polusi ke dalam tubuh sehingga kesehatan paru-paru pun dapat terjaga:
1. Pilihlah rute yang sedikit jumlah kendaraan bermotornya atau volume lalu lintasnya tidak padat. Penelitian di Belanda menunjukkan ada pengurangan PM 10-30% pada jam lalu lintas yang tidak padat.
2. Bersepedalah sepagi mungkin dan setelah hujan jika memungkinkan.
3. Gunakan alat-alat tambahan seperti masker.
4. Hindari bersepeda pada cuaca panas atau berangin.
5. Pilihlah rute yang melewati taman atau jalur air.
6. Hindari berkendaraan di belakang mobil, khususnya bis yang mengeluarkan asap buangan kotor (hitam pekat) atau kendaraan yang menggunakan bahan bakar solar.
7. Jika harus berhenti (karena lampu merah), berdirilah di depan kendaraan bermotor (jangan di belakangnya) sehingga tidak menghirup banyak asap polusi.

Sumber Referensi: [http://www.treehugger.com/],
[http://www.responsesource.com/], [http://www.purebreathe.com/], dan
[http://www.sciencedaily.com/]

Saturday, December 20, 2008

kondangan

Moroners kondangan ya begini: jeans + suit + sunglasses + helmet + gloves, hwehehehehe.. Namanya juga moronerrrr.. :))

Lagi ngantri salaman ada ibu-ibu ngeliatin gue. Kayaknya karena gue pake strap celana ijo genjreng hehe :D maap ya, bu, bawaan orok nih, pemberani aka ga tau malu.

Wednesday, December 3, 2008

jalan-jalan hari ini

Langit cerah hari ini. Matahari diskon. MZ lagi pingin kerja di luar, jadi kita jalan-jalan keliling kota (ga juga sih sebenernya). Berangkat jam 11 kurang ke toko Serikat di Peunayong. If you guys wonder what the he** is this place, it's a BIKE SHOP :D tujuan ke Serikat mo beli segitiga untuk ngangkat ban belakang sepeda (kebayang ga?) biar gampang bersihin chain dan nge-lube chainnya (doh ini tata bahasa mana yg gue pake ya.. biarin dah yg penting pada ngerti) Di sini disebut 'cagak' (caga', kayak bapa' bukan bapak), you knowlah sumatranese accent. Gue punya panggilan sendiri buat si segitiga ini: bike stand, hehehe... Murce, cuma 95. Kirain 150an.

Dari Serikat ke Pizza Hut, ngadem. Eh lupaaaa.. Sebelum ke Serikat, kita ke Warung Ramai di Setui, seberang Imperial Kitchen. Cuma ada 3 jenis makanan di situ: mie kocok ayam, baso ikan dan baso sapi. Gue pesen mie kocok, MZ baso sapi. Enak kuahnya! Gue lupa ini brunch dan sorenya mo makan sup tulang (tujuan utama jalan-jalan ini). Udah terlanjur dateng mie kocoknya waktu Mz ngingetin hehe. Hajaaaarrr... Sayangnya enak. Kalo ga enak gue ada alesan ga ngabisin and leave bigger space for the ribs soup :D

Lanjut...
Sebelum sampe Pizza Hut, mampir ke toko dvd Intense DVD (cmiiw). Gue langsung ilfil pas tau ga boleh dicoba. Ih, di RatPlaz aja boleh nyoba! Apalagi pas yg jaga bilang "Mamma Mia!" udah lama ori. Heeee??? Oktober awal aja di Jakarta belom ori, bisa-bisaan di sini udah lama ori. Cabut!

Di seberang Intense ada Dunia Refleksi. Ting ting! *mata membulat ala tokoh utama anime* Mz tanya tarifnya dulu. Murah sih, 1 jam 15 menit 60 ribu. Di Kebayoran (ga mo nyebut spesifik hahahaha) malah mahalan. Mariii..
Enak bow ternyata.. Pundak kiri gue yg sering sakit dikerjain lamaan biar anginnya keluar semua.

Selesai refleksi ke Pizza Hut juga akhirnyaaa.. Sepeda dilipet, ditaro di belakang kasir. Kita 'cuma' pesen chicken wings (yg isi 6 bukan 10!), bruschetta udang, deluxe platter (2 new orleans chicken wings, potato wedges dan onion rings), strawberry sparkling tea dan Dilmah (English Breakfast) tea. Selesai makan gue kentut-kentut terus pup =))

Selesai di Pijahat, kita ke Neusu. Dari rumah deket, cuma 5,5 km-an. Dari sup tulang (Lueng Bata) lumayan jauh dan beda arah. Sengaja milih tempat yang jauh biar tumpukan mie kocok (eh ini udah keluar pas pup kayaknya) dan Pijahat berubah jadi kalori, bukan lemak. Di Neusu kita ke Eiger, mo liat sarung tangan. Cuma ada warna item, males gue. Pingin warna ngejreng biar sepedaannya colorfull dan semangat gitu l0cH! (kalo Diana yg ngomong pasti 'loch'nya pake monyong dan fasih banget kayak ABG tulen). Akhirnya malah beli ransel. Damn. Lutju tasnya warna merah, ada logo palang merah, secara lengkapnya bertuliskan "Emergency Aid System - Paramedic" :)) lama nih di toko ini karena gue ga bisa decide take it or skip it (bukan leave it dong ah, lucu banget gitu). Setelah dibandingin dimensinya dibanding ransel HRC Bali gue yg udah sobek bagian punggungnya, akhirnya dibeliii... Yeaaaaahhh.. Dibilang 'tinggal 1' dan 'ga tau kapan masuk lagi' segala sama yg punya toko. Ini trik yg umurnya setua trik nawar bajaj belagak menjauh hahahaha... Ayo lanjut lagi!

Sekarang kita beneran ke Sup Tulang Kutaraja di Lueng Bata. Lewat jalan raya yg rame karena jam bubar kantor. Seru, ngebut di lampu ijo karena berenti paling depan hihi. Nyebelin karena ada motor-pake-magicjar yang sengaja ngeblock gue. Ngambil jalur nanggung tapi lelet. Mo disalip dari kanan, gue takut dia tau-tau ngebut. Ditungguin kok ya annoying. Eh pake nengok segala dgn tatapan ngeledek. Njis. Setelah dia puas ngeledek, motornya mendadak goyang pas dia mo ambil jalur kanan. Karena udah ada magicjar lain nempel dia. Mampos! Coba jatoh, gue brenti dah ngetawain dia :P Benci banget gue sama pengendara motor!!!

Di Sup Tulang disambut senyum bapak pemiliknya. Dikiranya gue dateng sendiri hehe.. Kita sama-sama pesen sup iga. Gue dapet iganya gede dan banyak daging + tulang muda. Mwah!! Enakkk.. Lega akhirnya bisa makan sup tulang setelah ngidam beberapa minggu hihi..

Pulangnya lewat Neusu lagi. Kalo lewat Lamlagang jalannya luruuuus aja, ngebosenin dan bikin capek. Mampir ke 2 toko yg jual Eiger juga cari jas hujan untuk Mz. Sold out. Kita coba ke Eiger di Keutapang yiuk...

Dan ternyata... Adaaaa... Northface sih, bukan Eiger. Sama aja deh, sama-sama outdoor gear. Gue beli bandana warna merah, Mz ijo. Ada jaket windproof Eiger keren deh, ada reflektor segala di punggung dan bagian samping. Tapi warnanya abu-abu, ga ngejreng. Gue mau yang ngejreng dan ada reflektor biar gampang keliatan kalo gowes malem. Mehel pula, 340. Sabar ya, Han.. Orang sabar pantatnya lebar :P sempet nyobain bag cover warna oranye. Ntar aja deh. Roo kan pake fender, ga muncrat-muncrat amat pas lewat kubangan air ato jalan berlumpur. Paling ntar perlu untuk panniers gue, seandainya ga dapet bag cover itu juga hehe.

Mari pulang marilah pulang..
Sambil WTB (walk the bike) karena belokannya nanggung, gue liat cewek pake SEPEDA BALAP PUTIH di seberang! Kereeennnnn... Siangnya liat sepeda balap Polygon Trexia di Serikat. Adudududu ban dan framenya yg tipis menggoda iman.. Ah sudahlah, nanti beli ban tipis ajah di Jakarta ;)

Hari ini distop 2x sama bapak-bapak yg penasaran sama (sepeda) kita.
Pertama kali di Blang Padang. Dia mepet Mz pake motornya sambil nanya-nanya beli di mana, berapaan, dll. Gue ajak berenti biar lebih aman ngobrolnya. Ga sempet tukeran nomer hp ato kartu nama tapi dia bilang mo ke YH untuk ngobrol lebih banyak. Dapet bonus apa nih gue ngelakuin dagangannya om Iwan? Hihihi..
Kedua, distop di kompleks TNI deket American Red Cross. Mo nanya helm dan lampunya, hihihi.. Bapak ini dokter, udah lumayan sepuh, in his late 60s. Kita ngobrol di depan rumahnya, ternyata :D gue kirain orang India dari penampangan dan logat. Ternyata local :)) pake nanya dulu ke Mz, "Do you speak english?" Sure! (english english english english) ngobrolnya nginggris deh..

Enak ya sepedahan! :)


Salam,
Hani on Roo

Saturday, November 29, 2008

kacamata sepedaan

Uhuy! Ga ngira bisa dapet kacamata buat sepedaan yang bagus di sini. Rencananya mo cari di Medan. Nyobain Oakley Flawles 4.0-nya Jihan enak, jadi pingin beli itu. Tadi pagi jalan ke toko Serikat rencananya mo liat ban Maxxis. Bannya mah ga dapet hehe. Ga punya ban 20" yang lebih kecil dari 1.75 dia. Malah dapet kacamataaaa... Jreng jreng!!!

Kacamata gue ini XZOne Archer S011B. Frame putih. Dapet 3 pasang lensa warna hitam, abu-abu dan oranye. Ada frame lepasan untuk lensa minus/plus/silindris. Buat gue yang pesek ini frame lepasannya nempel banget ke bulu mata kiri. Yang kanan ngga. Gue sempet ragu mo beli karena lensanya melengkung. Frame gue yang terakhir melengkung juga, pusing banget makenya sampe dilurusin paksa di optik. Gue pikir, kalo pusing ya udah ga usah dipake yang minusnya. Yang penting kan pas sepedaan mata gue ketutupan, aman dari bahaya kelilipan dan kereeennn, pastinya ;)

Selain kacamata, gue dapet tas kecil yang bisa dijadiin ransel, tas pinggang dan diselempangin. Keren yah! Pas banget buat sepedaan secara gerah pake backpack full size (punggung ketutup semua).

Ada lagi yang bikin gue seneng. Dari toko sepeda kita langsung ke Optik Internasional di Simpang Lima. Katanya itu optik paling bagus di Banda dan bisa bikin lensa yang selesai dalam 1 jam. Mata gue diperiksa dulu minusnya berapa. Ternyata udah turun lagiiii... Cuma -0.75 sekarang. Woohooooo... Tiga bulan yang lalu sebelum ke sini gue ganti lensa. Kanan-kiri -1, turun -0.25. Total 2 tahun ini minus gue turun 0.75, dari -1.5 ke -0.75. Senangnyaaa... Lucu ya, gue jarang banget pake kacamata, minusnya malah berkurang :D



Salam,
Hani on Roo

Sunday, November 23, 2008

Kilometer Nol Indonesia

Akhirnya setelah perjuangan panjang yg menghabiskan banyak air minum, kami sampai di titik Kilometer Nol Indonesia, di Iboih, pulau Weh, NAD. Jarak dari pantai Iboih (tempat kami menginap) ke Km 0 adalah 8 km. Jalannya rusak dengan tanjakan aduhai dan turunan jahanam yg sambung-menyambung menjadi satu. Kami berdua cuma kuat gowes sampe Km 4. Setelah itu sepeda diangkut dengan mobil sampai tujuan. Bener-bener welcome to the jungle!
Dan ternyata mesti berjuang lagi untuk sampe ke tugu yg ada di foto. Masih harus naik sekitar 20 anak tangga keramik yg licin dan banyak daun sisa hujan tadi pagi.
Waktu kami turun dari tugu, ada 4 laki-laki yang berusaha ngangkat motornya ke atas, hahaha... Mereka bilang motor itu akan jadi motor pertama yg naik ke tugu Km 0, seperti seli kami berdua :) Yeeeaaaah.. hidup Roo dan Vito!!

Salam,
Hani on Roo

Saturday, November 15, 2008

European Support for Bicycles Promotes Sharing of the Wheels



Published: November 9, 2008
BARCELONA, Spain — In increasingly green-conscious Europe, there are said to be only two kinds of mayors: those who have a bicycle-sharing program and those who want one.

Over the last several years, the programs have sprung up and taken off in dozens of cities, on a scale no one had thought possible and in places where bicycling had never been popular.

The sharing plans include not just Paris’s Vélib’, with its 20,000 bicycles, but also wildly popular programs with thousands of bicycles in major cities like Barcelona and Lyon, France. There are also programs in Pamplona, Spain; Rennes, France; and Düsseldorf, Germany. Even Rome, whose narrow, cobbled streets and chaotic traffic would seem unsuited to pedaling, recently started a small trial program, Roma’n’Bike, which it plans to expand soon.

For mayors looking to ease congestion and prove their environmental bona fides, bike-sharing has provided a simple solution: for the price of a bus, they invest in a fleet of bicycles, avoiding years of construction and approvals required for a subway. For riders, joining means cut-rate transportation and a chance to contribute to the planet’s well-being.

The new systems are successful in part because they blanket cities with huge numbers of available bikes, but the real linchpin is technology. Aided by electronic cards and computerized bike stands, riders can pick up and drop off bicycles in seconds at hundreds of locations, their payments deducted from bank accounts.

“As some cities have done it, others are realizing they can do it, too,” said Paul DeMaio, founder of MetroBike, a bicycle transportation consulting company based in Washington, D.C., that tracks programs worldwide. “There is an incredible trajectory.”

The huge new European bicycle-sharing networks function less as recreation and more as low-cost alternate public transportation. Most programs (though not Paris’s) exclude tourists and day-trippers.

Here in Barcelona, streets during rush hour are lined with commuters and errand-goers on the bright red bicycles of Bicing, the city’s program, which began 18 months ago. Bicing offers 6,000 bicycles from 375 stands, which are scattered every few blocks; the bikes seem to be in constant motion.

“I use it every day to commute; everyone uses it,” said Andre Borao, 44, an entrepreneur in a gray suit with an orange tie, as he prepared to ride home for lunch. “It’s convenient, and I like the perspective of moving through the streets.”

The expanding program in Barcelona is typical of so-called third-generation programs, which rely heavily on technology. (In its first generation, bike-sharing involved scattering old bikes around the streets, where they could be used for free; second-generation programs accepted coins.)

Here, a customer buys a yearly membership for about $30 and is issued a smart card that allows the rider to remove a bike from a mechanized dock. The first 30 minutes are free, with a charge of 30 cents per half-hour after that. A bike must be returned to any bike rack in the network within two hours or the card may be deactivated.

Most programs in Germany and Austria work on a different system; members receive cellphone text messages providing codes to unlock the bikes.

Copenhagen and Amsterdam have had devoted bicycling commuters for many years. But the new programs have created the greatest transportation revolution in central and southern Europe, where warmer climates allow riders to ride comfortably year-round. The shared bicycles in Barcelona, Lyon and Paris are heavily used, logging about 10 rides a day, according to officials in these cities.

In North America, issues like insurance liability, a stronger car culture, longer commutes and a preference for wearing helmets have slowed adoption of bicycle-sharing programs. None of the European programs require helmets. Still, Washington and Montreal are experimenting with small projects, and Chicago, Boston and New York are studying options.

Perhaps the best indication that bicycle-sharing has arrived is this: Shanghai, which 10 years ago was trying to eliminate bicycles from some of its boulevards to make way for cars, opened a pilot bike-sharing stand last month.

In most European cities, advertisers have been given contracts to set up and maintain bicycle-sharing programs in exchange for the rights to sell advertisements on city-owned structures like bus stations.

“We provide a turnkey program,” said Martina Schmidt, bike-sharing director of Clear Channel Outdoors, which now runs programs in 13 European cities and recently started its first American program, the one in Washington. “We give the city what they’re looking for, and they give us space to sell.”

Here in Barcelona, the Bicing program has had its glitches, reflecting, in part, its unexpected popularity.
On Barcelona’s outskirts, users complain that the program’s racks, each with up to 36 bikes, can run out toward the end of the morning rush hour, leaving customers temporarily stranded. Likewise, docking sites downtown are sometimes full, so riders have to search for parking.

Car owners complain about the removal of parking spots to accommodate new bike lanes; the city has about 80 miles of lanes, after rapidly expanding the lanes in the past two years.
Barcelona’s downtown business district is in a geographic bowl, compared with most residential neighborhoods, so while many people want to ride downtown to work, fewer want to ride bikes home. Directed by controllers at a command station, Bicing’s 100 employees use trucks to rebalance the system, taking bikes to where they are needed.

City officials seem a bit overwhelmed.
“For the moment, it will not grow anymore,” said Ramón Ferreiro, an official with Bicing. “We now have to consolidate and start working so that maintenance is adequate, and improve the system at all levels.”

Even with the growing pains, José Monllor, a graduate student, says he now rides to class instead of driving his car. “It stays in the parking lot,” he said of his car. “It’s stupid to drive.”

The impact of bike-sharing on traffic or emissions is difficult to quantify because converts include people like Mr. Monllor, who would have driven, as well as those who would have taken public transportation.

Officials in Lyon, one of the first cities to institute a large technology-driven bike program, estimate that bike-sharing has eliminated tons of pollutants since its inception in 2005. But more than that, they say, it has changed the face of the city.

“The critical mass of bikes on the road has pacified traffic,” said Gilles Vesco, vice mayor in charge of the program in Lyon. “Now, the street belongs to everybody and needs to be better shared. It has become a more convivial public space.”

--------
this is one of the reasons we're moving to Europe... woohoo!!!
original article is here

Wednesday, November 5, 2008

ada Glide, Briza dan Ciao *bingung*

 
Tiga sepeda ini bergaya sepeda mini. Kita sebut aja sepeda mini lipat ya. Bukan sepeda lipat mini karena bannya gede-gede, 20" (Ciao, paling kanan) dan 24" (Glide, paling kiri; dan Briza, tengah). 
Beda kelas sih: Glide P3/P8, Briza D3/D7, Ciao P3/P7/P8. Harga Briza kira-kira sama ama Roo dan Vitesse, harga Glide dan Ciao sama dengan harga Cadenza, kurang-lebih.


Pilihan warna sih paling banyak Briza, 8 warna. Tapi yang masuk sini paling banyak 3 warna deh. Kalo dicat, lifetime warranty-nya angus :(
Gue naksir berat Glide P8 caramel. Lutu bangeeettt... Kalo ngga ada Glide, Briza juga boleh deh, ada warna putih dan merah. Sepeda gue waktu SD warna putih, pake keranjang depan dan lampu dinamo. Masih kebayang sampe sekarang tu sepeda :">

gokil

Gowes Kentucky Lore-lore halah :))
Kami berdua menggowes ke KFC Keutapang, 2 km dari sini. Berangkat jam 17:38, sampe sana jam... mmm.. didn't really notice the time hehe. Akyu sudah kuat menggowes 3 km tanpa istirahat loh, ehek ehek.

Seperti biasa, origami menjadi penarik perhatian masyarakat. Mana handlepost gue copot karena kepanjangan hehe. MZ udah mulai pesen waktu gue masuk. Makan salad ah biar ga fast food-fast food amat. Eh, MZ dikira Thai! Hyahahahaha...

Feto-feto dong, harus. Pengennya mah bisa nangkep tulisan 'KFC' di dinding kacanya. Susah euy, pake hengpong soalnya. Ceritanya kita ngerayain kemenangan Obama tadi pagi, di kampung Republik hahahahaha... Hodob emang. Biarlah, yang penting hepi.


salam,
Hani on Roo

Tuesday, November 4, 2008

gowes sore-sore

Gowes sore tanpa tujuan sebenernya, yang penting gowes ajah hehe. Sekalian nyoba sepatu kets gue yang nyampe tadi pagi :D 
Pertamanya mo ke Mata'ie. Di simpang ke-2 berubah pikiran mo ke Keutapang. Tapi mulai gelap, gue ga pake kacamata. Sampe di jembatan kita puter balik. Kayaknya justru jalan ini yang menuju ke Mata'ie deh :D

Kondisinya udah lebih gelap dibanding gotul (gowes tulang). Perlu beli lampu belakang yang lebih terang nih. Tail light kita cuma 0,3 cd (candle power). Bandingin sama lampu lain yang sampe 100 cd :(
Terus pengen beli lampu sen juga, kayak yang dipake om Yohanes idfb. Beli di mana ya?

Btw ABC itu lucu. Judulnya community alias komunitas tapi bikin acara sendiri-sendiri ga ada pengumumannya di milis. Tau-tau besoknya pada cerita kemaren abis jalan ke situ, ke sini, bikin bike clinic lah. Bweh. Boro-boro live report kayak idfb. Di idfb ada gowes cantik goes to Singapore ga bilang-bilang aja pada sebel. Lah di sini bikin bike clinic diem-diem aja. Rese. Newbie kayak gue kan haus ilmuuuu... Saaaaahhh... =))

Dah ah mo mandi.

salam,
Hani on Roo

Monday, November 3, 2008

pantes juga ya gue naek emtebeh

Ini sepedanya Dona IOM. Kirain MTB tuh berat, ternyata enteng. Gowesnya puas, sekali kayuh dapet banyak. Beli Dahon 26" aja yuuukkkk... Handlebar MTB ga bisa dinaik-turunin soalnya hehe. Manja :P
Motto gue pan, kalo bisa dibikin gampang/enak/murah, kenapa ngga? Hihihihi...


salam,
Hani on Roo

Saturday, November 1, 2008

kidal-friendly bicycle

Because I am left-handed, I have also reversed my brakes, so my left (more powerful) hand controls the rear brake. I have been warned at bike shops that doing so increases the risk of an accident for anyone stealing my bike, but I have not been alarmed by this suggestion.

-- quoted from this page


Menarik nih! Sekarang sih lagi mikir gimana caranya ngedorong ato narik Dahon pake tangan kiri dengan enak. Ga PD gue pake tangan kanan hehe...

Gowes Tulang - 311008



Jumat sore, 31 Oktober, kita berdua makan sup iga di Sup Tulang Kutaraja, Lueng Bata. Berangkatnya naik Avanza dianter Awi, jam 4an sore, matahari lagi lucu-lucunya. Dedahonan duduk di belakang manis-manis. Rencananya emang mo gowes B2H - Bike To Home. Sekalian ngukur jarak sebenernya dari Lueng Bata ke Ajun Jeumpet. Vito ga pake cyclo soalnya.


Bapak yang punya tempat itu udah apal sama kita, karena tiap makan selalu nambah, hehehe.. Kita milih-milih mo makan sup apa, dia ngeliat-liat sepeda kita. Sambil kita makan, beliau dan anaknya 2 orang mulai merapat ke meja kita, ngeliatin. Akhirnya dia tanya, "Sepedanya harga berapa, pak? Tujuh belas juta ya?" Whaattt???
"Ini yang entry level, pak, tiga juta aja. Yang 17 juta juga ada, keren banget," jawab MZ (pasti sambil ngebayangin Tikit).
"Ooooohh..." mukanya lega gitu si bapak. "Saya kira di atas 15 juta. Keren banget soalnya." Sedap banget dah dengernya :D




MZ selesai makan duluan. Gue masih berkutat dengan iga-iga yang masih ada di piring gue dan 4 perkedel kentang. Sebenernya pengen nambah nasi tapi takut ga abis, jadi pake perkedel kentang aja hihihihi...
Mulailah dia ngebuka lipetan Vito. Anaknya yang gede awalnya malu-malu. Begitu dibuka berani juga dia nyobain, padahal sadelnya ketinggian. Muter-muter 2x, terus gantian bapaknya yang nyobain. Adenya yang masih TK sibuk ngeliatin helm gue, karena ada lampunya. Dia tanya gimana cara nyalainnya pake bahasa Aceh :D sok ngerti aja gue, terus gue nyalain. Seneng banget dia ngeliat lampu helm kelip-kelip hihi.





Ada langganan situ juga yang nanya harganya berapa. Kita tawarin untuk coba, dia ga berani. Takut ga kuat karena badannya gede. MZ bilang pernah liat lipetan United di Peunayong. Dia nanya sampe detil harganya berapa, toko mana yang jual, di Jakarta adanya di mana, dll. Kalo nyobainnya di toko sepeda lebih PD kali ya :)

Setelah isi perut gue terasa mulai memadat, kita cabut dari situ sekitar jam 6 kurang 10 menit. Gowes santai ke arah Soekarno-Hatta. Sampe rumah jam 18:29, udah mulai gelap. Jarak Lueng Bata-Ajun Jeumpet ternyata 7 km, bukan 6 km seperti di posting gue sebelumnya :D



Sepanjang perjalanan dipepet berbagai mobil dan motor yang penasaran sepeda apaan sih ini, kok bannya kecil gitu hihihihi... Yang menarik perhatian pastinya lampu belakang MZ dan lampu helm gue yang kelip-kelip. Nervous juga gue waktu dipepet 2 motor yang ngobrol di belakang gue. Ngganggu tauuuuu...
Ada 1 mobil taruna abu-abu yang melambat dan sampe buka kaca segala demi ngeliatin sepeda-sepeda aneh ini. Dan, seperti biasa, dipanggil 'mister' dan 'bule' hahahahahaha...